Setelah mengamati beberapa pedang di pasar yang terbuat dari baja hitam dan berkilau tajam, Narendra menyadari Arkha tak terlihat di sekitarnya. Ia mengerutkan kening dan menoleh pada Kael.

"Kael, kemana Arkha? Apakah dia sudah kembali? Aku tidak melihatnya dari tadi." tanyanya dengan nada khawatir.

Kael menghela napas ringan, matanya menyapu kerumunan pedagang dan pembeli yang sibuk bertransaksi. "Mungkin dia masih melihat-lihat senjata di bagian lain. Bukan sifatnya pergi tanpa memberi tahu kita."

Mereka akhirnya memutuskan untuk mencari Arkha. Namun, setelah menyusuri pasar yang ramai dan memeriksa sudut-sudut yang tersembunyi, jejak Arkha tetap tak ditemukan.

"Kita tidak menemukannya. Lebih baik kembali dulu. Siapa tahu dia sudah lebih dulu pulang... Lagipula, dia cukup mampu menjaga dirinya sendiri," ujar Kael dengan nada yakin, meskipun gurat kekhawatiran tak sepenuhnya hilang dari wajahnya. Wajah wanita yang sangat dikenalnya dan sangat berbahaya masih belum hilang dari ingatannya. Jika wanita tersebut berasal dari dunianya, menandakan pemerintah sudah mengetahui posisi keberadaan mereka.

Narendra terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Terlalu mampu malah, sampai-sampai para wanita takut mendekatinya."

Kael hanya menggelengkan kepala, senyum tipis terukir di bibirnya.

Sepanjang perjalanan kembali, suara hiruk pikuk penduduk menarik perhatian mereka. Pembicaraan berbisik namun tegang tentang Sekte Api Langit yang mengalami masalah, bahkan tentang kematian ketuanya.

"Apakah kau yakin berita itu benar? Bagaimana ketua sekte mereka bisa terbunuh begitu saja?" tanya seorang pria setengah baya dengan cemas.

"Kau tidak lihat? Sekte-sekte di kota kita sedang bersiap untuk berangkat menuju Sekte Api Langit," sahut yang lain.

"Dunia sepertinya akan mengalami kekacauan lagi..." gumam seorang penduduk dengan wajah khawatir.

Narendra melirik Kael dengan raut serius. "Kael, menurutmu Kepala Suku dan Lala sudah menemukan pembunuhnya? Aku mencemaskan mereka."

Kael menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, mungkin..." Ucapannya terputus saat pandangannya tertumbuk pada sosok yang berdiri membelakangi mereka di ujung jalan yang lengang. Bayangan tubuh itu tegap dan kokoh, tetapi bahunya tampak kaku.

Tatapan Kael menajam. "Narendra, cepat!" serunya, bergegas mendekati sosok itu dengan langkah cepat.

"Ternyata kau di sini, Arkha! Kami mencarimu dari tadi." Narendra menepuk bahu Arkha dengan kuat.

Namun, tubuh Arkha mendadak terhuyung dan ambruk ke tanah. Darah mengalir deras dari pisau kecil yang tertancap dalam di perutnya, membasahi pakaian yang digunakannya. Anehnya, wajah Arkha tetap dingin dan tidak menunjukkan rasa sakit, hanya tatapan kosong yang dalam.

Narendra bergerak cepat, jari-jarinya menotok beberapa titik akupuntur di tubuh Arkha. Dalam sekejap, ia mencabut pisau kecil itu dengan cekatan dan segera menuangkan butiran obat ke dalam mulut Arkha.

"Syukurlah, lukanya tidak terlalu dalam dan tidak beracun. Tapi mengapa dia belum sadar?" gumam Narendra, keningnya berkerut dalam kebingungan.

Kael yang sejak tadi terdiam dengan wajah tegang kini membeku, matanya terpaku pada pisau kecil yang tergeletak berlumuran darah. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar. Dengan suara bergetar, ia bergumam, "Dia... Memang dia yang datang... Kanaya..."

***

"Leluhur Sekte, terus terang, saya tidak memahami banyak tentang pertandingan, sehingga tak bisa memberikan saran yang tepat. Namun, jika Leluhur berkenan, saya memiliki sebuah ide." Lynx menghentikan ucapannya sejenak, menanti tanggapan dari Leluhur Sekte Api Langit.

Semua tetua, termasuk Leena dan Lala, menatap tajam ke arah Lynx dengan penuh rasa ingin tahu. Atmosfer ruangan terasa tegang; bahkan suara helaan napas terdengar jelas.

Di sisi lain, murid yang menyampaikan informasi penting dari kerajaan, tertegun ketika melihat sosok berpakaian aneh berdiri di ruangan itu. Wajahnya memucat ketika teringat desas-desus tentang orang asing misterius yang membunuh ketua sektenya. Kemarahan membara dalam dirinya.

"Kamu... Kamu pembunuh Ketua Sekte kami!" serunya penuh amarah. Dengan gerakan cepat, dia menghunus pedang dari kantung penyimpanan dan bersiap menyerang.

"Tenanglah, He Zhi!" seru salah satu tetua dengan nada tegas. "Leluhur sudah memastikan bahwa dia bukanlah pembunuh Ketua Sekte kita. Saat ini, dia adalah tamu sekte kita."

He Zhi tertegun mendengar ucapan itu. Pikirannya berputar cepat, menyadari kesalahannya. Tak mungkin para tetua dan Leluhur mengizinkan orang ini berdiri di ruangan sekte jika benar dia pelakunya. Wajahnya memerah karena malu, dan dia segera menundukkan kepala dalam-dalam, memberi hormat.

"Maafkan saya, Tuan. Saya terbawa emosi dan gagal berpikir jernih."

Lynx memandang He Zhi dengan sorot penuh penghargaan. "Aku tidak menyalahkanmu. Dalam situasi seperti ini, kesalahpahaman mudah terjadi. Aku menghargai keberanianmu."

He Zhi mengangguk penuh rasa syukur. "Terima kasih, Tuan." Ia segera menyarungkan kembali pedangnya dan bersujud di depan Leluhur.

"Murid He Zhi memohon maaf karena telah bertindak lancang kepada tamu sekte."

Leluhur hanya melambaikan tangan, memberi isyarat agar masalah ini dianggap selesai. Tatapannya kembali beralih pada Lynx. "Apa idemu? Katakanlah!"

Lynx melangkah maju, suaranya mantap namun terukur. "Leluhur memiliki seorang murid bernama Ling Mei. Saya sudah melihat potensi yang ada padanya. Jika Leluhur berkenan, saya dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan Ling Mei. Saya memiliki beberapa cara khusus untuk melatihnya." Lynx sengaja menekankan kata "beberapa cara," menyadari bahwa Leluhur tentu meragukan kemampuannya yang terlihat hanya pada tingkat Forging Qi Tingkat Dua. Lynx juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk dapat membawa Leena keluar dari sekte dan bergabung bersamanya mencari suku Surya.

Leluhur terdiam, matanya menatap tajam ke arah Lynx. Pikirannya bergolak. Tingkat kultivasi Lynx memang rendah, tetapi kata-katanya mengisyaratkan bahwa dia mungkin memiliki metode khusus atau artefak yang mampu memperkuat Ling Mei.

Namun, salah satu tetua maju selangkah dengan raut penuh kehati-hatian. "Leluhur, mohon maaf. Ling Mei adalah seorang wanita. Tidak sepantasnya jika kita membiarkan seorang wanita pergi bersama seorang pria, terutama di masa yang penuh kekacauan ini."

"Saya juga berpikir demikian leluhur, apalagi di luar sana sudah banyak tokoh-tokoh penting yang menunggu untuk bertemu leluhur. Mereka akan berpikiran lain jika melihat murid wanita kita bersama seorang pria." Kata tetua lainnya memberi pendapat.

Tatapan Leluhur berubah semakin dalam, mempertimbangkan kata-kata para tetua dan Lynx. Udara dalam ruangan terasa semakin berat, seolah waktu melambat. Keputusan yang diambil malam ini akan memengaruhi masa depan sekte dan juga nasib Ling Mei.

Lala, yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan sengit di dalam ruangan, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan penuh tekad. Suaranya lantang namun terkendali saat berkata, "Ling Mei tidak akan pergi sendirian. Saya akan ikut menemani mereka."

Salah satu tetua mendengus, alisnya terangkat dengan sorot mata mencemooh. "Huh, siapa kau sebenarnya? Aku bahkan tidak tahu alasanmu bisa ikut dalam pertemuan ini."

Suasana ruangan mendadak tegang. Para tetua baru menyadari keberadaan wanita asing itu di tengah-tengah mereka. Selama ini, mereka terlalu fokus pada pertemuan antara Leluhur dan Plasura hingga mengabaikan siapa yang ikut masuk. Tatapan penuh curiga mulai mengarah pada Lala.

"Jangan-jangan dia mata-mata!" teriak seorang tetua lain dengan suara menggelegar, tangannya terangkat, dan pusaran Qi yang kuat berkumpul di telapak tangannya. Aura tekanan keluar, menggetarkan lantai dan dinding ruangan.

Leena segera melangkah maju, wajahnya tenang meski keringat dingin membasahi pelipisnya. "Maaf, Para Tetua. Saya yang membawanya atas permintaan Tuan Plasura," katanya cepat sambil sekilas melirik Lynx.

Lynx hanya menyeringai tipis dalam hati. "Sayangku memang pintar mencari alasan," batinnya.

Menghadapi tatapan penuh kecurigaan, Lynx mengangguk santai. "Benar, Para Tetua. Saya meminta Lala ikut ke tempat ini. Saya melihat potensinya dan berniat melatihnya bersama Ling Mei." Suaranya tenang, namun penuh keyakinan.

Para tetua saling berpandangan dengan raut bimbang, namun alasan yang disampaikan Lynx cukup masuk akal. Mata mereka akhirnya beralih pada Leluhur, menanti keputusan akhir.

Leluhur Sekte Api Langit, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya membuka mata yang tertutup rapat. Wajahnya masih tenang, tetapi sorot matanya meneliti wajah Ling Mei dengan penuh perhatian.

"Ling Mei, bagaimana menurutmu? Apakah kau bersedia mengikutinya?" tanya Leluhur dengan nada lembut, namun tegas.

